
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Dewan Uni Eropa memperpanjang sanksi selama setahun lagi terhadap sejumlah orang atau entitas karena telah dianggap bertanggung jawab atas serangan siber di Uni Eropa.
Awalnya Dewan Uni Eropa menerapkan sanksi itu sejak 30 Juni 2020 dan berlaku selama setahun. Sanksi tersebut berlaku untuk delapan orang dan empat entitas yang terlibat serangan siber.
Dewan UE juga membekukan segala aset dan larangan perjalanan terhadap mereka yang masuk daftar hitam.
Dalam dokumen yang dikeluarkan Dewan Uni Eropa pada Selasa (18 Mei 2021), seperti dikutip dari kantor berita Rusia, TASS, sanksi tersebut termasuk mencakup larangan bagi orang atau entitas Uni Eropa yang menyediakan dana bagi mereka yang masuk daftar hitam tersebut.
Daftar hitam orang atau entitas tersebut berasal dari Rusia, China, dan Korea Utara. Tahun lalu, UE dan Inggris memasukkan dua warga negara Rusia dalam daftar hitam, yaitu Kepala Direktorat Utama Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia, Igor Kostyukov dan Kepala Pusat Utama ke-85 untuk Layanan Khusus di GRU, Dmitry Badin, yang diduga terlibat dalam serangan siber pada 215 yang menargetkan parlemen Jerman, Bundestag.
Badin juga didakwa di AS karena serangkaian panjang peretasan saat menjadi bagian dari APT28, seperti serangan siber terhadap Badan Anti-Doping Dunia (WADA), Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW), dan keterlibatan upaya disinformasi politik di AS.
Oktober 2020, Otoritas Rusia mengatakan Jerman tidak pernah memberikan bukti apa pun sehubungan dengan peretasan Bundestag. (Baca: Uni Eropa Beri Sanksi Rusia Terkait Dugaan Peretasan Parlemen Jerman)
Pada Maret 2021, Parlemen Jerman juga ditarget kelompok peretas melalui serangan email phishing, tulis Der Spiegel. Email tersebut dikirim ke email pribadi politisi Jerman.
Peretas diduga berasil mendapatkan akses ke akun email tujuh anggota parlemen dan 31 anggota parlemen regional Jerman. Sebagian besar anggota nggota parlemen yang menjadi sasaran serangan ini adalah bagian dari pengurus anggota partai Rakyat Eropa (CDU/CSU) dan Partai Demokrat Sosial.
Menurut Juru Bicara Bundestag, para penyerang tidak menargetkan jaringan Bundestag melainkan langsung ke anggota parlemen. Setelah serangan terdeteksi, semua anggota parlemen yang menjadi sasaran segera diberi tahu.
Otoritas keamanan Jerman mencurigai bahwa kelompok peretas intelijen militer Rusia yang dijuluki “Ghostwriter” berada di balik serangan spearphising ke anggota parlemen. (Baca: Parlemen Jerman Jadi Target Peretas Rusia)
Share: