IND | ENG
Telegram Ajak Hapus WhatsApp, Saling Sindir di Twitter

Ilustrasi WhatsApp dan Telegram via Dignited

Telegram Ajak Hapus WhatsApp, Saling Sindir di Twitter
Yuswardi A. Suud Diposting : Senin, 17 Mei 2021 - 16:10 WIB

Cyberthreat.id - Aplikasi pesan Telegram dan WhatsApp saling sindir terkait kebijakan baru WhatsApp yang memaksa pengguna agar menyetujui anak usaha Facebook itu berbagi data penggunanya dengan perusahaan lain di bawah naungan Facebook Grup.

Saling sindir itu dimulai oleh Telegram di Twitter. Pada 14 Mei lalu, sehari sebelum kebijakan baru WhatsApp diberlakukan, Akun Twitter resmi @Telegram menguggah sebuah meme berisi sejumlah tempat sampah yang digambarkan sebagai evolusi "Recycle Bin" (tempat sampah untuk file yang dihapus) dari tahun ke tahun. Di tahun 2021, gambar ikon "recycle" tersebut ternyata diubah oleh Telegram menjadi ikon "WhatsApp". Sementara itu, logo induk aplikasi tersebut, yaitu Facebook justru menjadi "sampah" yang harus dibuang di Recycle Bin tahun ini.

Tak ada narasi pengantar apa pun di unggahan Telegram itu.  Pada 15 Mei, WhatsApp pun membalas meme itu dengan menyindir Telegram.

"Telegram admin: dan apa yang orang-orang tidak tahu adalah kita tidak tidak menerapkan enkripsi ujung-ujung sebagai setelan awal (by default)," tulis WhatsApp

Telegram kemudian kembali meresponnya dengan mengatakan,"Pengguna kami tahu bagaimana semuanya bekerja, dan kami punya aplikasi open source untuk membuktikannya. Kalian...bicara pada tangkapan layar ini. Itu mengatakan kalian bohong."

Tangkapan layar yang dimaksud berisi tiga poin tentang akses terhadap data percakapan yang dicadangkan di iCloud milik Apple dan GDrive milik Google.

"Apple dapat mengakses percakapan ini (data cadangan) karena datanya disimpan di iCloud. Google dapat mengaksesnya karena chat disimpan di GDrive. WhatsApp dapat mengaksesnya dan memunculkan percakapan di perangkat baru hanya dengan menggunakan nomor telepon kita."

Dengan kata lain, Telegram mempertanyakan apa gunanya enkripsi ujung ke ujung jika data cadangannya bisa diakses oleh Apple, Google dan WhatsApp sendiri.

"Tunggu, artinya pesan di atas (enkripsi ujung ke ujung) adalah kebohongan?" tanya Telegram.

Seperti diketahui, WhatsApp memang memungkinkan penggunanya menyimpan data cadangan di iCloud (bagi pengguna produk Apple), dan di GDrive bagi pengguna Android. Data cadangan ini akan berguna jika sewaktu-waktu pengguna WhatsApp hendak mengganti perangkat. Dengan menggunakan nomor telepon yang terhubung dengan akun WhatsApp, percakapan lama dapat dimunculkan kembali di perangkat baru dengan menarik data yang dicadangkan di GDrive atau iCloud.

Masalahnya, data cadangan yang disimpan di iCloud dan GDrive itu tidak dilindungi dengan password apa pun. Walhasil, bisa saja data itu diakses oleh Google atau Apple. Beberapa waktu lalu, WhatsApp memang pernah mengumumkan sedang menyiapkan mekanisme perlindungan untuk data cadangan pengguna yang disimpann di GDrive, namun belum ada pemberitahuan lebih lanjut kapan itu akan diterapkan. (Lihat: WhatsApp Siapkan Pengunci Data Cadangan di Google Drive)

WhatsApp sendiri tak lagi memberi respon balasan atas pernyataan Telegram itu.

Telegram kemudian mempertegas ajakan menghapus WhatsApp saat menjawab pertanyaan salah satu netizen yang meminta saran apa yang harus dilakukan.

"Sama seperti sebelumnya. Pilih layanan yang menghormati Anda. Dan hapus WhatsApp," tulis Telegram.

Risiko Jika Data Pribadi Anda Dikuasai WhatsApp
Direktur Eksekutif SAFEnet, Damar Juniarto melalui akun Twitternya pada Sabtu (16 Mei 2021) menyebut setidaknya ada 5 hal yang terjadi saat WhatsApp menguasai data pribadi.

1. Memahami minat dan gaya hidup untuk mengejar iklan

WhatsApp membangun profil pengguna dengan mempermainkan sentimen dan keputusan Anda, dari hasil data yang dikumpulkan. Jika Anda telah memperhatikan bagaimana iklan di Facebook atau Instagram tampil sesuai dengan minat Anda saat ini dengan relevansi yang sangat tinggi, mekanisme semacam inilah yang bekerja.

2. Membentuk pandangan politik

Jika data pengguna Facebook diambil untuk membangun profil psikologis dan mengeksploitasi bias politik mereka dengan iklan Facebook, hal yang sama bisa terjadi lagi.

Seperti saat Cambridge Analytica yang menggunakan data-data yang dikumpulkan dari Facebook untuk mengubah pilihan politik saat pilpres AS tahun 2016. Praktik semacam ini bisa terjadi lagi.

3. Mengubah keadaan emosi

Suasana hati dan emosi pengguna WhatsApp bisa dipermainkan dengan pancingan informasi. Eksperimen tersebut pernah dilakukan Facebook pada Januari 2012 dengan 689.003 pengguna selama satu minggu.

4. Menentukan keberadaan dan tempat yang sering dikunjungi untuk mencapai akurasi periklanan yang lebih tinggi

Pengguna akan menjadi target dengan penempatan iklan berdasarkan geolokasi untuk membantu mitra menggaet calon pelanggan.

5. Kehilangan data karena pelanggaran keamanan lain

"Kebocoran data pengguna skala besar sering terjadi di produk perusahaan Facebook, jangan membahayakan kehidupan digital Anda dan orang-orang yang Anda kasihi," kata Damar.[]

#telegram   #whatsapp   #kebijakanprivasi

Share:




BACA JUGA
Meta Luncurkan Enkripsi End-to-End Default untuk Chats dan Calls di Messenger
Lindungi Percakapan Sensitif, WhatsApp Luncurkan Fitur Secret Code
Gunakan Bot Telekopye Telegram, Penjahat Siber Membuat Phishing Scams Skala Besar
Fitur Baru WhatsApp: Protect IP Address in Calls
Spyware CanesSpy Ditemukan dalam Versi WhatsApp Modifikasi