
Budiman Sudjatmiko berbicara dalam webinar 'Dari Bandung High Tech Valley ke Bukit Algoritma', Jumat (30 April 2021 | Tenri Gobel/Cyberthreat.id
Budiman Sudjatmiko berbicara dalam webinar 'Dari Bandung High Tech Valley ke Bukit Algoritma', Jumat (30 April 2021 | Tenri Gobel/Cyberthreat.id
Cyberthreat.id - Nama Bukit Algoritma tiba-tiba menggema dalam sebulan terakhir. Berada di Cikadang, Sukabumi, Jawa Barat, kawasan itu digadang-gadang bakal menjadi pusat riset dan pengembangan teknologi layaknya Silicon Valley di California, Amerika Serikat, yang menjadi markas sejumlah raksasa teknologi global seperti Facebook, Google dan lainnya.
Rencana pembangunan Silicon Valley ala Indonesia ini dikepalai oleh Budiman Sudjatmiko, politisi PDI Perjuangan.
Berbicara dalam diskusi online "Dari Bandung High Tech Valley ke Bukit Algoritma", Jumat (30 April 2021), Budiman mengatakan ide itu muncul setelah dirinya melihat bahwa teknologi buatan dalam negeri kurang digunakan. Sebaliknya, masyarakat perkotaan di Indonesia malah menggunakan teknologi dari luar negeri.
Berbeda dengan yang ada di desa, Budiman mengatakan masyarakat di desa lebih melihat fungsi daripada asal produknya. Sehingga, Budiman melihat demand readiness level (RDL) atau tingkat kematangan pasar pada perkembangan teknologi di kalangan masyarakat desa.
"Saya tidak ingin konsumerisme desa terkontaminasi dengan konsumerisme orang kota," ujarnya.
Budiman bilang, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) juga memiliki dana yang banyak dan kebingungan akan dipakai untuk apa. Itu sebabnya, kata dia, dana itu nantinya bisa disalurkan ke Bukit Algoritma.
Meurutnya, nantinya dalam Bukit Algoritma ini akan dibuat semacam Budmes Tower, sebagai tempat khusus riset dan pengembangan Bumdes. Dengan kata lain, pasarnya juga akan orang-orang desa,yang mana menurut penggagas Bukit Algoritma ini, di desa sudah ada demand untuk Internet of Things (IoT).
"Mereka [orang desa] ready early adopter, orang jualan ke instansi kalau merk tidak jelas mereka [orang kota] enggak mau. Menurut kami orang desa tidak secerewet itu," katanya.
Ada banyak koperasi-koperasi di desa, kata Budiman, yang berpotensi masuk ke Bumdes Tower seperti dari kategori Koperasi Satelit Desa Indonesia (KSDI) yang fokus pada perangkat, jaringan, aplikasi, hingga koperasi-koperasi lainnya. Budiman mengatakan KSDI itu telah berhasil membuat handphone (hp) sendiri untuk digunakan warga desa.
Sebenarnya di Indonesia, kata Budiman, ada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tetapi agak unik karena marketnya dibiarkan liberal, diserahkan kepada pasar tidak ada kewajiban memakai produk dalam negeri atau wajib ponsel Indonesia buatan BPPT.
Selain karena melihat adanya DRL di desa, Budiman menjelaskan alasan pembangunan Bukit Algoritma ini juga untuk menampung "orang-orang keren Indonesia" seperti para diaspora -- masyarakat Indonesia yang kuliah di luar negeri.
"Mereka mengeluh satu hal, ada kuliah cloud computing, sensor elektrokimia [di luar negeri], 'kalau kami pulang kami mau ngapain', karena ada satu teman kami pulang jadi analisis kimia, masuk lembaga riset tugasnya administratif," kata Budiman.
Mengenai Sukabumi atau lokasinya, Budiman ditawarkan bahwa ada tanah yang bisa dipakai. Yang menawarkan tanah itu, kata dia, mengetahui dirinya sedang mengumpulkan para diaspora yang memiliki permasalahan yang sama ketika pulang ke Indonesia: tidak tahu mau berbuat apa.
Untuk masa pembangunannya, kata Budian, normalnya butuh waktu sekitar 11 tahun. Pihaknya pun juga akan menggandeng 3 universitas yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk membuka riset dan pengembangan di Bukit Algoritma itu.
Untuk sumber daya manusianya, dalam benak Budiman, tidak hanya dari anak-anak muda diaspora Indonesia, tetapi juga melibatkan profesor yang masih jernih pikirannya, hingga para warga sekitar tempat pembangunan Bukit Algoritma.
"Teman-teman inovator yang latih [orang sekitar], latih coding, bikin apps, bikin software. Kalau punya ide cari ahli komputer, lawyer, bikin perusahaan presentasikan. Nanti kita sudah buatkan inkubasi, " ujarnya.
Seorang dosen dan peneliti bidang rekayasa perangkat lunak di Fasilkom Universitas Indonesia, Eko K. Budiardjo menyambut baik rencana itu. Hanya saja, dia mengingatkan, pembangunan Sillicon Valley ala Indonesia jangan mengikuti cara negara lain.
"Saya apresiasi dengan Bukit Algoritma, dengan cara berbeda dengan kekuatan dalam negeri, adalah desa," ujarnya.
Sementara itu, Pakar IT dan keamanan siber dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Budi Rahardjo mengatakan pembangunan Sillicon Valley ala Indonesia memang sulit tetapi bukan mustahil.
Dia bercerita dirinya pernah terlibat dalam proyek serupa yakni rencana pembangunan Bandung High Tech Valley (BHTV) sepanjang Cilegon ke Bandung. Namun, proyek itu tidak berhasil. Ironisnya, Bandung malah berbeda dengan Sillicon Valley yang dipenuhi perusahaan high tech, karena petanya malah dipenuhi dengan Factory Outlet (FO), katanya.
Budi sebagai salah satu bagian dari BHTV menceritakan gagasan BHTV cukup berbeda dengan Bukit Algoritma. Jika Bukit Algoritma fokusnya pada pasar dalam negeri, BHTV waktu itu difokuskan untuk ekspor seperti Sillicon Valley aslinya.
Menurut Budi, berangkat dari desa itu sangat bagus sekali karena sebenarnya bukan masalah teknologinya, tetapi yang beli juga tidak ada sehingga bisa memanfaatkan Bumdes yang memiliki pasarnya.
Budi berharap Budiman dapat mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi penguasa pasar dengan mengingatkan agar tidak tercebur di langkah yang sama dengannya dan dapat belajar dari kesalahan-kesalahannya saat mencoba membangun BHTV. []
Editor: Yuswardi A. Suud
Share: