
Diskusi Literasi Keamanan Siber dan Pengembangan SDM Siber yang diselenggarakan oleh BSSN, Rabu (21 April 2021)
Diskusi Literasi Keamanan Siber dan Pengembangan SDM Siber yang diselenggarakan oleh BSSN, Rabu (21 April 2021)
Cyberthreat.id – Direktur Proteksi Ekonomi Digital Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Retno Artinah Suryandari mengatakan keluarga harus bisa menjadi fondasi dasar literasi keamanan siber dan etika di ruang siber.
Retno bilang, orang tua memiliki peranan penting dalam memberikan pemahaman kepada anak mengenai apa itu keamanan siber dan juga bagaiama seseorang menjaga etika di ruang siber untuk melindungi anak-anak mereka di ruang siber. Orang tua juga harus menanamkan bahwa ruang siber dan ruang nyata merupakan hal yang sama, sehingga mereka harus bisa berperilaku baik dan sopan.
“Pengajaran tentang norma – norma dan etika ketika berselancar di ruang siber dapat dilatih sejak dini. Keluarga sebagai lingkup terkecil dapat memulai proses pembentukan budaya literasi keamanan siber ini,” ungkap Retno dalam diskusi berjudul "Literasi Keamanan Siber dan Pengembangan SDM Siber" yang digelar BSSN berbarengan dengan peluncuran Wanita Indonesia dalam Keamanan Siber pada Rabu (21 April 2021).
Retno menjelaskan, orang tua harus mengajarkan kepada anak beberapa hal terkait etika dan sikap di media sosial, seperti, identitas dan potret diri, hubungan sosial daring, reputasi daring, perundungan daring, mengelola informasi daring, keamanan dan privasi, kesehatan mental, serta kepemilikan dan hak cipta.
“Anak – anak harus diberitahu, bagaimana mereka harus bersikap di ruang siber, karena tindakan mereka di ruang siber berkaitan dengan reputasi mereka nantinya,” tambah Retno.
Berkaitan dengan hal ini, kata Retno, BSSN sebagai lembaga pemerintah berusaha membentuk budaya literasi keamanan siber secara bertahap untuk meningkatkan kesadaran dan mengedukasi masyarakat umum, agar memiliki skill dan pemahaman terkait cybersecurity.
"BSSN saat ini berusaha memberdayakan keluarga, khususnya orang tua untuk memulai literasi keamanan siber dan etika di ruang siber sejak dini pada anak mereka. Hal ini merupakan suatu tantangan yang tidak mudah ya, apalagi kita dihadapkan dengan kondisi penduduk yang berjumlah sekitar 270 juta,” tambah Retno.
Sayangnya, Retno tidak menjabarkan lebih jauh berapa persen orang tua di Indonesia yang memiliki pemahaman tentang keamanan siber sehingga dapat diharapkan untuk mengajarinya anaknya. Sebab, dalam sejumlah diskusi online, hoaks atau kabar bohong yang beredar di grup WhatsApp keluarga, sering kali datangnya dari orang tua.
Di kesempatan yang sama, Ketua Kwarda Pramuka DKI Jakarta, Woro Indah Widiastuti mengatakan penguasaan literasi digital perlu diberikan kepada generasi milenial sejak dini karena mereka merupakan native digital yang terpapar teknologi informasi sejak dalam kandungan (orang tuanya menggunakan gadget) hingga lahir ke dunia (mereka harus menghadapi dunia nyata dan dunia digital). Karena itu, kata dia, literasi digital memiliki peran penting dalam membentuk karakter mereka agar menjadi manusia yang unggul.
Selain itu, Woro menambahkan, perlu sinergi orang tua, guru, dan anggota keluarga lainnya dalam ranah digital untuk sama sama belajar dan memahami penggunaan, maafaat, serta bahaya yang mengintai di ruang siber.
Menurutnya, orang tua dan guru juga perlu meningkatkan pengetahuan soal keamanan siber dan teknologi supaya tidak terjadi gap yang dengan anak. Dengan begitu, orang tua serta guru dapat mengawal mereka di dunia digital.
“Literasi keamanan siber sangat penting untuk terus menerus digaungkan dan disosialisasikan sampai generasi milenial memahami kompleksitas ancaman kejahatan di sunia siber yang semakin canggih dan beragam,” ungkap Woro.
Dengan memahami keamanan siber, Woro berharap anak – anak bisa lebih berhati–hati dalam menggunakan teknologi digital dan menerapkan budaya keamanan siber sehingga tidak terlena dan bisa menghilangkan ketagihan menggunakan internet dan media sosial. []
Editor: Yuswardi A. Suud
Share: