
Ilustrasi militer AS
Ilustrasi militer AS
Pentagon, Cyberthreat.id - Pernahkah anda berpikir bahwa teknologi bisa mengidentifikasi seseorang berdasarkan detak jantung. Teknologi inilah yang terus dikembangkan oleh militer Amerika Serikat menggunakan infra merah yang mendeteksi kardio.
Ketika pengenalan wajah (facial recognition) dan sidik jari (fingerprinting) terus berkembang, teknologi pengenalan melalui detak jantung bertujuan mencari atau mendeteksi seseorang yang berada di daerah terpencil atau jarak jauh.
Untuk tahap awal, setidaknya teknologi ini bisa mendeteksi orang yang berada dalam radius 200 meter. Jika disandingkan dengan Artificial Intelligence (AI), identifikasi melalui detak bisa berkembang ke arah yang menakjubkan.
"Teknologi ini dikembangkan untuk menolong tentara yang sedang berada di zona perang," tulis laporan Digital Trends, Rabu (3 Juli 2019).
Disebutkan bahwa detak jantung setiap orang memiliki perbedaan seperti halnya sidik jari. Teknologi ini sebelumnya sudah dikembangkan melalui sejumlah alat seperti gelang Nymi Band.
Jika dikoneksikan dengan perangkat, gelang itu bisa mengenal melalui detak jantung yang dianggap sebagai password.
Pembaca Bibir
Pentagon diketahui juga telah mengembangkan berbagai teknologi untuk militer. Teknologi yang membaca bibir untuk mengendalikan alat tempur juga sudah pernah dilakukan. Dengan kata-kata tertentu yang dianggap password, sebuah kendaraan perang bisa dinyalakan dan beroperasi.
Iris Scaning
Deteksi menggunakan selaput pelangi mata atau iris sudah banyak dilihat di dalam film-film. Sejumlah perangkat seperti Samsung Galaxy Note 7 dan Windows 10 sudah menggunakannya untuk mengintegrasikan pemindaian selaput pelangi mata.
Namun, untuk teknologi di dunia militer tentu gunanya beragam seperti menjaga rahasia negara atau kode militer. Pengguna hanya menatap layar kaca dari sebuah perangkat, maka secara otomatis iris mata akan terdeteksi.
Pengenalan Suara
Ini sudah lazim digunakan seperti Google translate yang menggunakan suara. Pengembangan deteksi suara bisa dilakukan dalam tiga bentuk pendekatan, yaitu pendekatan akustik-fonetik (the acoustic-phonetic approach) pendekatan AI dan pendekatan pengenalan pola (the pattern recognition approach).
Bayangkan jika teknologi facial recognition, fingerprinting, pembaca bibir, identifikasi dan pengenalan suara, iris scaning kemudian dikombinasikan dengan identifikasi detak jantung melalui AI. Apakah ini sudah terlalu jauh?
Share: