IND | ENG
Dugaan Peretasan Pertamina: Pengusaha Ini Mengaku Rugi Puluhan Juta Per Hari, Pertamina Membisu

Tangkapan layar unggahan klaim kebocoran data Pertamina | Twitter: DarkTracer

Dugaan Peretasan Pertamina: Pengusaha Ini Mengaku Rugi Puluhan Juta Per Hari, Pertamina Membisu
Yuswardi A. Suud Diposting : Senin, 29 Maret 2021 - 14:14 WIB

Cyberthreat.id - Seorang pengusaha yang menjadi mitra Pertamina mengaku merugi hingga puluhan juta per hari setelah terjadinya gangguan sistem yang belakangan diklaim oleh geng hacker RansomEXX akibat ulah mereka.

Dalam penyataannya kepada Tempo.co, pengusaha mitra Pertamina di bidang BBM dan gas retail yang menolak namanya ditulis itu mengatakan sejak 6 Maret lalu, dirinya mengalami kekacauan pemesanan barang atau delivery order. Itu berlangsung selama satu minggu lebih.

Menurutnya, pihak Pertamina mengatakan kekacauan itu terjadi karena adanya pemeliharaan rutin (maintenance) pada sistem mereka. Namun, pengusaha itu menolak menelannya mentah-mentah.

Menurut pengusaha yang berbasis di Pulau Jawa itu, masalah maintenance biasanya terisolir di satu depot BBM atau SPBE saja. Sedang yang terjadi saat itu disebutnya meluas.

"Kok (masalah) maintenance sampai lebih dari seminggu?” katanya mempertanyakan.

Menurutnya, gangguan sistem itu menyebabkan Pertamina tidak bisa melacak pembayaran atas pemesanan barang dari mitra. Walhasil, lantaran orderan online selalu gagal, mitra Pertamina belakangan harus menggunakan sistem manual.

“Menurut saya, itu sudah menjadi indikator bahwa kejadian ini lumayan tersebar. Karena sistem itu terpusat dan bukan terisolir di satu tempat,” ujarnya.  

Dia juga mengaku memantau cuitan kabar peretasan Pertamina yang digaungkan oleh akun Twitter ‘digembok’. Menurutnya, apa yang dibeberkan oleh akun itu cukup tepat, termasuk urutan waktu kejadiannya. Cuitan-cuitan itu menyebut peretasan dimulai dari sekitar 6 Maret, tepatnya pada Sabtu malam. Dia ingat, pada malam itu laporan datang dari staff bahwa sistem Pertamina—seperti SIMELON—tidak dapat diakses.

Pengusaha itu mengatakan dirinya merugi hingga puluhan juta rupiah per hari selama kekacauan sistem Pertamina.

Dia menyatakan rasa kecewanya karena Pertamina tak memberi klarifikasi atas kabar peretasan dan bocornya data internal yang memuat ribuan pelanggan.

"Jika memang ada kebocoran tentu sangatlah mengecewakan dan memprihatinkan jika hanya ditutup-tutupi," katanya sambil menambahkan, "Dari segi cyber security, ini fatal.”

Sebelumnya, situs Pertamina sempat tidak bisa diakses. Cyberthreat.id memberitakan pada 10 Maret 2021 lalu. Juru bicara Pertamina, Fajriyah Usman, tidak merespon permintaan konfirmasi (Lihat: Situs Web Pertamina Tak Bisa Diakses Publik)

Dua pekan berselang, pada 23 Maret 2021, akun Twitter DarkTracer mengabarkan geng peretas ransomware, RansomEXX mengklaim telah meretas sistem Pertamina dan membocorkan data yang dicurinya ke situs web gelap (dark web) yang menggunakan domain Onion dan hanya bisa diakses menggunakan peramban TOR. Peretas mempublikasikan data berukuran 430,6 MB itu pada 9 Maret 2021. (Lihat: Hacker RansomEXX Bocorkan Data yang Diklaim Milik Pertamina Sebesar 430 MB)

Saat Cyberthreat.id mengonfirmasi terkait klaim peretasan itu, pihak Pertamina lagi-lagi tidak membalas permintaan komentar.

Situs Tempo.co yang berupaya meminta konfirmasi dari Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman, juga tidak mendapat penjelasan soal itu.

“Mohon maaf, pertanyaan agar dapat ditujukan ke Pak Agus (Agus Suprijanto) selaku Juru Bicara Pertamina,” katanya melalui pesan WhatsApp, Sabtu dinihari, 27 Maret 2021.

Agus adalah Senior Vice President Corporate Communication & Investor Relation Pertamina.

"Sejak Jumat, 26 Maret 2021, telepon selulernya juga membisu," tulis Tempo.co.[]

#pertamina   #kebocorandata   #RansomEXX   #hacker

Share:




BACA JUGA
Microsoft Ungkap Aktivitas Peretas Rusia Midnight Blizzard
Penjahat Siber Persenjatai Alat SSH-Snake Sumber Terbuka untuk Serangan Jaringan
Peretas China Beroperasi Tanpa Terdeteksi di Infrastruktur Kritis AS selama Setengah Dekade
Google Cloud Mengatasi Kelemahan Eskalasi Hak Istimewa yang Berdampak pada Layanan Kubernetes
Serangan siber di Rumah Sakit Ganggu Pencatatan Rekam Medis dan Layanan UGD