IND | ENG
Ilham Habibie Soroti Bias Algoritma Kecerdasan Buatan

Ilham Habibie dalam diskusi bertajuk "Tantangan Pembangunan di Indonesia di Era Teknologi, di auditorium Institut Perancis Indonesia (IFI) di Jakarta, Kamis (31 Januari 2019) malam. | Foto: Antara/Dodo Karundeng

Ilham Habibie Soroti Bias Algoritma Kecerdasan Buatan
Oktarina Paramitha Sandy Diposting : Kamis, 25 Maret 2021 - 18:45 WIB

Cyberthreat.id – Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi Nasional (Wantiknas) Ilham Akbar Habibie menyoroti tentang bias teknologi kecerdasan buatan (AI).

Ilham mengatakan, bias teknologi AI bisa terjadi karena masalah algoritma dan data yang digunakan di dalamnya. Algoritma apa pun yang dipakai AI “mencerminkan pemikiran manusia sehingga sangat penting untuk memasukan data atau pemikiran selengkap dan seseimbang mungkin.”

“Manusia sebagai pemrogramnya harus memiliki rasa tanggung jawab untuk membangun AI yang dapat dipercaya atau trustworthy dengan memahami potensi isu etika dan kebiasan yang dapat terjadi,” ujar Ilham dalam diskusi virtual TIK-Talk#23 bertajuk “Understanding Ethics and Bias to Build Trustworthy Artificial Intellegence”, Kamis (25 Maret 2021).

Menurut Ilham, isu bias ras dan gender menjadi tantangan bagi keberagaman etnis di Indonesia. Oleh karenanya, penerapan kecerdasan buatan harus selaras dengan Pancasila, agama, dan adat istiadat. Sehingga

“Manusia sebagai pemrogram AI harus memahami potensi isu etika dan bias yang dapat terjadi,” ujar dia.

Lalu, bagaimana mengatasi bias pada kecerdasan buatan?

Menurut Ilham, ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan oleh praktisi, pelaku bisnis, dan pembuat kebijakan untuk mengatasi bias AI, antara lain (1) membangun proses untuk menguji dan mengurangi bias dalam sistem AI dan (2) diskusi berdasarkan fakta tentang potensi bias dalam keputusan manusia.

Lalu, (3) riset sepenuhnya bagaimana manusia dan mesin dapat bekerja sama dengan baik, (4) investasikan lebih banyak penelitian bias, sediakan lebih banyak data untuk penelitian, dan mengadopsi pendekatan multidisiplin, dan (5) investasikan lebih banyak dalam mendiversikasi bidang AI.

Oleh karenanya, menurut dia, perlunya kerangka berpikir “Trustworthy AI” dalam rangka menghasilkan teknologi kecerdasan buatan yang dapat dipercaya dan tidak membahayakan kehidupan manusia.

Saat ini telah ada upaya-upaya baik dari sisi teori maupun rekayasa data dan algoritma yang mengarah kepada prinsip Trustworthy AI. “Dengan menggunakan prinsip Trustworthy AI masalah bias teknologi kemungkinan bisa dihindari,” ujar dia.[]

Redaktur: Andi Nugroho

#kecerdasanbuatan   #AI   #kecerdasanartifisial   #Wantiknas   #BPPT   #AInasional

Share:




BACA JUGA
Demokratisasi AI dan Privasi
Indonesia Dorong Terapkan Tata Kelola AI yang Adil dan Inklusif
Wamenkominfo Apresiasi Kolaborasi Tingkatkan Kapasitas Talenta AI Aceh
Microsoft Merilis PyRIT - Alat Red Teaming untuk AI Generatif
Utusan Setjen PBB: Indonesia Berpotensi jadi Episentrum Pengembangan AI Kawasan ASEAN