
Seorang teknisi sedang memperbaiki ponsel pelanggan di sebuah toko reparasi di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Timur, Selasa (2 Juli 2019). Faisal Hafis (M)/Cyberthreat.id
Seorang teknisi sedang memperbaiki ponsel pelanggan di sebuah toko reparasi di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Timur, Selasa (2 Juli 2019). Faisal Hafis (M)/Cyberthreat.id
Jakarta, Cyberthreat.id – Ke mana biasanya Anda memperbaiki ponsel pintar (smartphone)?
Pilihan yang paling jamak adalah jasa reparasi murah dan terdekat. Namun, jangan asal memilih tukang reparasi, salah-salah Anda justru mendapat masalah untuk kedua kalinya. Kok bisa?
Saya mengunjungi Pusat Grosir Cililitan (PGC) di Jakarta Timur, Selasa (2 Juli 2019). Di pusat perbelanjaan ini, selain menawarkan pakaian juga terdapat satu lantai yang menjual ponsel baik baru maupun lawas, termasuk yang menjual laptop. Dan, satu lantai lagi, dijumpai sekumpulan tukang reparasi baik ponsel maupun laptop.
Saya mewawancarai dua tukang reparasi di dua toko berbeda. Dari kesempatan itu, satu hal penting yang perlu diperhatikan pengguna ponsel: jangan sembarangan memilih jasa reparasi.
Adam, sebut saja begitu, adalah seorang teknisi di toko Nusantara Service. Selama tiga tahun menjadi teknisi, Adam menceritakan, telah menjadi “rahasia umum” di kalangan teknisi jika banyak teknisi yang berbuat nakal kepada pelanggan.
Yang dimaksud nakal di sini, kata dia, seperti mengganti hardware yang sebetulnya tidak rusak, tapi diganti dengan suku cadang lain yang berkualitas buruk. Selain itu, ada yang menanam virus atau malware pada ponsel atau laptop sehingga perangkat menjadi rusak dalam tempo dekat sepulang dari reparasi.
“Sebenarnya banyak yang nakal kayak gitu, enggak usah kita sebut namanya. Kalau terlalu murah biayanya itu patut dicurigai, karena bisa saja itu yang enggak benar,” ujar Adam.
Ia mengaku tidak melakukan praktik jahat itu kepada pelanggan. “Kalau di kami mah enggak ada yang aneh-aneh,” kata dia sambil tertawa. Menurut dia, praktik nakal seperti itu memang ada di toko reparasi-reparasi di PGC.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Asep Setiawan, teknisi di salah satu toko PGC. Menurut dia, perilaku nakal para teknisi memang sengaja dilakukan untuk “menjebak” pelanggan agar balik lagi ke tokonya setelah beberapa hari selesai diperbaiki. “Kalau enggak gitu mah, enggak bakal ramai tempatnya, “ ujar dia.
Dahlia Ningtyas (20), karyawan swasta di Cibubur, Jakarta Timur, pernah mengalami pengalaman yang menyakitkan saat mereparasi laptopnya di PGC. Saat itu laptopnya terkena malware. Setelah diperbaiki, ternyata laptop juga tak mau menyala.
“Waktu itu sudah enggak bisa nyala, pas diperbaiki malah rusak lagi. Saya waktu itu servis di sana karena lebih murah saja dibandingkan di tempat servis resminya. Tapi, sejak saat itu saya sudah enggak mau lagi servis kalau bukan di tempat resm,” ujar warga Kalibata, Jaksel.
Redaktur: Andi Nugroho
Share: