
Ilustrasi: FBI
Ilustrasi: FBI
Cyberhtreat.id - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) pada 2020 menerima laporan kerugian dari para korban kejahatan dunia maya dan penipuan online di negara itu senilai US$ 4,2 miliar atau setara Rp60,4 triliun. Jumlah itu meningkat 20 persen dibanding tahun 2019.
Dirilis pada hari Rabu, (17 Maret 2021), laporan tahunan Divisi Pusat Keluhan Kejahatan Internet FBI [PDF] menyebutkan, mereka menerima rata-rata lebih dari 2.000 keluhan per hari selama 2020, naik dari tahun sebelumnya yang rata-rata 1.200 laporan per hari.
Peningkatan itu, kata FBI, sebagian besar didorong oleh kompromi email bisnis (BEC), serangan ransomware, dan penipuan dukungan teknologi yang meluas, di mana penipu meyamar sebagai perwakilan layanan pelanggan dari perusahaan teknologi atau lembaga keuangan, hanya untuk menipu korban agar mengirimkan uang.
Penipuan BEC adalah penyebab lebih dari 19.000 keluhan pada tahun 2020, mengakibatkan kerugian sebesar US$ 1,8 miliar. Sementara pada 2019, ada 23.775 keluhan dengan kerugian senilai US$ 1,7 miliar). Pencuri biasanya menyusupi alamat email yang sah melalui peretasan atau manipulasi psikologis, kemudian meminta transfer kawat dari korban yang tidak menaruh curiga.
"Itu gila," kata Crane Hassold, mantan analis FBI yang sekarang menjadi direktur senior penelitian ancaman di perusahaan keamanan email Agari, dalam sebuah cuitanya pada hari Rabu.
FBI telah telah berusaha untuk menjadi perantara atas nama korban dengan membentuk Tim Aset Pemulihan, yang didirikan pada tahun 2018. Tim ini berfungsi sebagai penghubung antara penegak hukum dan lembaga keuangan yang tanpa disadari melakukan penipuan transfer keuangan. Tahun lalu, FBI 1.303 kasus.
Dalam satu kasus yang melibatkan korban yang tidak disebutkan namanya pada Juni 2020, FBI mengetahui transfer kawat sebesar US$ 60 juta yang diminta untuk dikirim ke rekening bank Hong Kong. Pada akhirnya, transaksi itu diblokir setelah FBI memberi tahu atase hukum Hong Kong, bank Hong Kong dan mitra lainnya. Uangnya kemudian dikembalikan ke korban.
Serangan ransomware juga masih menjadi momok. Dengan 2.747 keluhan pada 2020, total kerugian yang dilaporkan sebesar US$ 29,1 juta. Angka ini melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding kerugian yang dilaporkan tahun 2019 yaitu sebesar US$ 8,9 juta.
Serangan ransomware juga terus berlanjut selama pandemi virus korona, menyerang setidaknya 80 penyedia medis hingga November, seperti dilaporkan CyberScoop.
Jenis kejahatan siber di Amerika Serikat pada 2020 dengan masing-masing nilai kerugiannya | Sumber FBI
Angka-angka itu bisa jadi hanya mewakili sebagai kecil dari kerugian sebenarnya akibat pemerasan digital. Sebab, seringkali usaha kecil dan menengah dan individu tidak melaporkan pelanggaran semacam itu kepada penegak hukum.
FBI menghabiskan waktu berbulan-bulan mencoba mengumpulkan lebih banyak informasi tentang serangan ransomware, termasuk informasi tentang kecenderungan peretas, detail malware, dan demografi korban, dalam serangkaian pertemuan dengan perusahaan asuransi dan perusahaan Amerika lainnya.
Serangan ransomware tunggal terhadap Universal Health Services, penyedia perawatan kesehatan Amerika, yang terjadi pada September 2020, mengakibatkan kerugian yang diperkirakan sebesar US$ 67 juta, kata organisasi itu dalam pengungkapan baru-baru ini.
Penipuan dukungan teknologi mengakibatkan kerugian sebesar US$ 146 juta, meningkat 171% dari tahun 2019. Setidaknya 66% korban berusia di atas 60 tahun, kata FBI.[]
Share: