
Ilustrasi | Foto: Freepik
Ilustrasi | Foto: Freepik
San Fransisco, Cybethreat.id - Sejumlah perusahaan keamanan siber (cybersecurity) ternama di dunia memberikan peringatan serius.
Selain perilaku dan perangkat pengguna meninggalkan identitas dan privasi yang sangat berisiko, faktor sumber daya manusia (SDM) di bidang keamanan siber masih kurang.
"Kami benar-benar kewalahan dengan jumlah yang harus kami lakukan, tetapi tidak bisa karena kurangnya sumber daya," demikian salah hasil survei Black Hat bertajuk "Consumers in the Crosshairs".
Bahkan, empat dari 10 pakar keamanan siber mengaku dirinya kelelahan dengan tugas yang mereka lakukan.
Survei juga menyebutkan, lebih dari 90 responden juga menyatakan, kekurangan pakar keamana siber yang terlatih dan berkualitas secara signifikan mempengaruhi keselamatan dan keamanan data baik pribadi maupun komersial.
Survei yang baru dirilis Senin (1 Juli 2019) tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan Black Hat Amerika Serikat yang diadakan pada 3-8 Agustus 2019. Survei mengambil sampel 345 pakar keamanan siber ternama di dunia industri cybersecurity.
Pikirkan dua kali tentang mem-posting informasi yang mengidentifikasi di mana Anda berada atau di mana Anda akan berada," demikian salah satu pesan responden, seperti dikutip dari Yahoo Finance, Senin (1 Juli 2019).
Sekadar diketahui, Black Hat yang dimaksud ini bukanlah sekelompok peretas jahat, tapi sebuah acara tahunan keamanan informasi yang diselenggarakan sejak 1997 di Las Vegas, AS. Penggagasnya adalah para komunitas keamanan siber. Selain berbagi informas dan tren terkini keamanan informasi, acara ini juga ada pelatihan.
Dalam survei itu, menurut Black Hat, risiko keamanan siber bahkan bisa mempengaruhi Pilpres AS pada 2020. Kekhawatiran yang muncul dari survei itu adalah apakah mesin e-voting yang dipakai aman dari serangan hacker?
"Lebih dari 60 persen pakar keamanan siber mengatakan, kemungkinan peretasan mesin e-voting akan mempengaruhi Pilpres AS. Sementara, 63 persen percaya bahwa serangan siber dari Rusia secara khusus akan memiliki dampak terhadap Pilpres AS 2020," tulis Black Hat.
Menyangkut data pribadi konsumen, survei itu menunjukkan, sekitar 90 persen dari responden mengatakan, tidak peduli seberapa hati-hati seseorang, kemungkinan data mereka sangat riskan dari penjahat siber.
"Hanya 30 persen yang percaya bahwa konsumen dapat melindungi privasi dan identitas mereka di masa depan," tulis Black Hat.
Apalagi informasi pribadi konsumen saat ini mudah tersebar melalui penggunaan wi-fi publi, asisten AI, perangkat Android, media sosial, dan lain-lain.
"Teknologi yang digunakan konsumen setiap hari menempatkan mereka dalam risiko. Salah satu yang berisiko tinggi adalah asisten AI seperti Alexa dan Siri," sebut Black Hat.
Yang menjadi sorotan terhadap masalah identitas adalah media sosial. Semua medsos, menurut responden, adalah sangat buruk terhadap keamanan data konsumen.
"Mayoritas (75 persen) responden mengatakan, menggunakan jaringan sosial adalah ide buruk. Lalu, sekitar 70 persen mengatakan, mem-posting sesuatu ke 'publik' di Facebook adalah kegiatan berisiko tinggi," tulis Black Hat.
Dari sejumlah platform medsos, Facebook dinilai paling rentan oleh 80 persen responden, Instagram (lebih dari 70 persen), Linkedln (sekitar 60 persen), SnapChat (58 persen), Twitter (53 persen), dan Pinterest (51 persen).
Celah Pertahanan
Para responden memperkirakan, pelanggaran infrastruktur kritis AS akan mengalami peningkatan pada dua tahun ke depan.
"Ketika serangan siber menjadi lebih lazim baik dalam politik maupun perang, para pakar khawatir akan celah pertahanan AS," tulis Black Hat.
Hanya 21 persen dari responden percaya bahwa pemerintah dan industri swasta siap untuk menghadapi serangan siber infrastruktur kritis.
Share: