
Caracas, Venezuela, dalam kondisi gelap gulita hingga Senin (12/3/2019). Pemimpin oposisi Juan Guaidó menyalahkan Presiden Nicolás Maduro atas kegagalan pemulihan pasokan listrik tersebut. TASS | Barcroft Images
Caracas, Venezuela, dalam kondisi gelap gulita hingga Senin (12/3/2019). Pemimpin oposisi Juan Guaidó menyalahkan Presiden Nicolás Maduro atas kegagalan pemulihan pasokan listrik tersebut. TASS | Barcroft Images
Caracas, Cyberthreat.id – Selama lima hari terakhir, Venezuela dalam kondisi gelap gulita. Kecurigaan sementara pemerintah setempat, kondisi itu karena sebuah serangan siber yang dilakukan peretas (hacker) ke sistem layanan listrik negara tersebut.
Demikian laporan Izvestia, salah satu surat kabar terkemuka Rusia, seperti dikutip dari TASS, kantor berita Rusia di situs webnya, Senin (12/3/2019).
Izvestia menulis peretasan itu dilakukan oleh Amerika Serikat sebagai cara mengundang sentimen untuk menggulingkan kursi Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Seperti diketahui, di negara produsen minyak itu sedang terjadi krisis politik. Pemimpin oposisi, Juan Guaido, yang didukung AS dan sekutunya dianggap sebagai presiden sah Venezuela. Ia mencoba menggulingkan Maduro yang didukung oleh Rusia dan China.
Pada Kamis (7/3/2019), perusahaan listrik negara Venezuela, Corpoelec, menyatakan, ada sebuah aksi sabotase di Pembangkit Listrik Tenaga Air Bendungan Guri atau Simon Bolivar. Akibatnya, sekitar 80 persen wilayah Venezuela gelap gulita. Sejak Kamis sore itu, sebanyak 21 dari 23 negara bagian tidak teraliri listrik.
Presiden Maduro juga dengan keras menyatakan bahwa AS ikut bertanggung jawab di balik pemadaman tersebut. “Pemerintah AS yang imperialistik memerintahkan untuk melakukan serangan ini ketika mereka menyadari bahwa upaya mereka untuk menyakiti Venezuela tidak membuahkan hasil,” kata Maduro dalam pidatonya.
Kepolisian Venezuela telah menangkap dua orang yang menyabotase operasional PLTA Simon Bolivar. Maduro menyebut keduanya sebagai “penjahat kemanusiaan”, “melawan perdamaian”, dan “penghianatan tingkat tinggi”. “Mereka harus mempertanggungjawabkan perilakunya di depan hukum,” ujar Maduro.
Serangan Ekonomi
Analis politik dari Russian Institute for Strategic Studies, Igor Pshenichnikov, berpandangan bahwa AS mencoba menggambarkan pemadaman listrik Venezuela seolah-olah telah terjadi kekacauan nyata di seluruh negeri.
Sementara, Telesur, media televisi di Caracas, juga menuding AS menggunakan alur “krisis ekonomi” sebagai dalih lain untuk rencana intervensi militernya ke negara itu di balik alasan “membangun demokrasi dan ketertiban”. “Tujuannya, memicu ketidakpuasan publik,” tulis TASS.
Di media sosial, Twitter, sempat viral bahwa pemadaman listrik itu menyebabkan 79 pasien di rumah sakit meninggal dunia. Pemerintah Venezuela membantah berita itu dan menyebutnya sebagai hoaks.
Menteri Komunikasi dan Informasi Venezuela Jorge Rodriguez mengatakan, peretas sepertinya tidak memperhitungan bahwa semua rumah sakit di Venezuela telah dilengkapi generator listrik sehingga tidak ada rumah sakit yang mengalami gelap gulita.
Rodriguez mengatakan, serangan siber itu menargetkan sistem kontrol otomatis di PLTA. Saat ini listrik sedang dipulihkan secara bertahap.
Majelis Nasional Venezuela telah menyatakan keadaan darurat atas pemadaman listrik. “Keadaan darurat dinyatakan di seluruh bagian karena gangguan pasokan listrik,” demikian pernyataan parlemen.
21 Orang Meninggal Dunia
Sementara itu, The Guardian melaporkan sedikitnya 21 orang, di antaranya enam bayi, meninggal dunia selama pemadaman listrik tersebut.
“Ini bukan hanya angka, ini adalah nyawa Venezuela yang tidak akan hilang, seandainya bukan karena ketidakmampuan Nicolas Maduro,” tulis Jose Manuael Olivares, dokter dan politisi oposisi, dalam akun Twitter-nya.
Menurut hitungan Olivares, 15 pasien yang meninggal itu berada di RS Manuel Nunez di timur laut Maturin.
Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, mengatakan saat ini pemerintah masih bekerja untuk menyelesaikan krisis.
Share: