
Robot Humanoid Sophia berinteraksi dengan peserta seminar dan Dialog Global Centre for Strategic and International Studies (CSIS) 2019 di Jakarta, Senin (16 September 2019). | Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Robot Humanoid Sophia berinteraksi dengan peserta seminar dan Dialog Global Centre for Strategic and International Studies (CSIS) 2019 di Jakarta, Senin (16 September 2019). | Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Cyberthreat.id – Hanson Robotics, pengembang robot Sophia—robot humanoid berbasis kecerdasan buatan (AI)—akan mulai memproduksi massal pada akhir tahun 2021, lima tahun sejak diluncurkan dan telah menjadi viral di media sosial.
Ada empat model robot, termasuk Sophia, yang akan diluncurkan perusahaan asal Hong Kong itu pada paruh pertama 2021; waktu yang diperkirakan para peneliti bahwa pandemi Covid-19 akan membuka peluang baru bagi industri robotika.
“Dunia Covid-19 akan membutuhkan lebih banyak otomatisasi untuk menjaga keamanan orang,” kata Pendiri dan CEO David Hanson, seperti dikutip dari Reuters, diakses Senin (25 Januari 2021).
Hanson meyakini bahwa solusi robotik untuk pandemi tidak terbatas pada perawatan kesehatan, tetapi juga dapat membantu pelanggan di industri seperti ritel dan maskapai penerbangan.
“Robot Sophia dan Hanson unik karena sangat mirip dengan manusia,” tutur dia.
“Itu bisa sangat berguna selama masa-masa ketika orang-orang sangat kesepian dan terisolasi secara sosial.”
Sophia memang hampir menyerupai manusia. Ketika tur kunjungan ke lab di Hong Kong, Sophia sempat berbicara, “Robot sosial seperti saya dapat merawat orang sakit atau lanjut usia,” kata Sophia.
"Saya dapat membantu berkomunikasi, memberikan terapi, dan memberikan stimulasi sosial, bahkan dalam situasi sulit."
Target penjualan
Sejauh ini, perusahaan menargetkan untuk menjual "ribuan" robot pada 2021, baik besar maupun kecil, tanpa memberikan nomor tertentu.
Profesor robotika sosial Johan Hoorn, yang sempat meneliti Sophia, mengatakan, meski teknologinya masih dalam tahap awal, pandemi Covid-19 bisa mendorong percepatan hubungan antara manusia dan robot.
“Pandemi sebenarnya akan membantu kita mendapatkan robot lebih awal di pasar karena orang mulai menyadari bahwa tidak ada cara lain,” kata Hoorn, dari Universitas Politeknik Hong Kong.
Hanson Robotics meluncurkan robot tahun ini bernama Grace, yang dikembangkan untuk sektor perawatan kesehatan.
Produk dari pemain besar lainnya di industri robotika juga dirilis untuk membantu manusia selama pandemi. Misal, Robot Pepper SoftBank Robotics dirancang untuk mendeteksi orang yang tidak memakai topeng. Di China, perusahaan robotika CloudMinds membantu mendirikan rumah sakit lapangan yang dijalankan robot selama wabah virus korona di Wuhan.[]
Share: