
Data persebaran hoaks di berbagai saluran komunikasi yang dipaparkan Donny Budi Utoyo, Sabtu, 23 Januari 2021
Data persebaran hoaks di berbagai saluran komunikasi yang dipaparkan Donny Budi Utoyo, Sabtu, 23 Januari 2021
Cyberthreat - Anggota Tim Komunikasi Publik Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Donny Budi Utoyo, mengatakan, tantangan Indonesia dalam penanganan Covid-19 saat ini tidak hanya soal kesehatan dan ekonomi saja, tetapi juga penyebaran disinformasi atau hoaks yang beredar di masyarakat.
“Saat ini yang kita hadapi bukan hanya virus penyakit saja, tetapi juga virus yang berupa informasi atau yang sering kita sebut hoax,” ungkap Donny dalam Workshop '#bersatulawanhoaxs Rembuk Indonesia Lawan Hoaks Covid-19', secara virtual, Sabtu (23 Januari 2020).
Diskusi online ini menghadirkan pihak terkait seperti perwakilan Facebook Indonesia, Google Indonesia, pegiat cek fakta dari Mafinfo dan sejumlah narasumber lain.
Menurut Donny, sumber informasi hoaks yang paling banyak adalah dari media sosial. Terlebih saat ini masyarakat lebih mempercayai informasi yang ditemukannya dari media sosial seperti Whatsapp, Facebook, Instagram, dan juga Twitter. Padahal, sosial media merupakan tempat penyebaran disinformasi dan hoaks yang paling masif.
“Dalam survei literasi digital Indonesia 2020, sumber masyarakat mencari informasi adalah media sosial dengan persentase mencapai 76%, bahkan mereka juga mempercayai berita atau informasi yang didapatkan dari media sosial,” ujarnya.
Donny menambahkan, berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika, sejak awal Maret 2020 hingga Januari 2021, ada 1.300 hoaks berbahasa Indonesia yang terdeteksi. Dari jumlah itu, 70 diantaranya merupakan hoaks tentang vaksin.
"Rata-rata pertumbuhan 5 hoaks baru per hari beredar di masyarakat," tambah Donny.
Penyebaran hoaks ini, kata Donny, membuat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin Covid19 menurun. Mengacu kepada survei Kementerian Kesehatan bersama WHO dan Unicef pada November 2020, Donny bilang, saat itu 64,8 persen responden menyatakan bersedia divaksin, 7,6 persen menolak, dan 20-an persen menjawab tidak tahu. Sedangkan dalam survei terbaru, kata dia, angka yang bersedia menerima vaksin turun hingga ke angka 50 persen.
"Orang yang siap divaksin makin lama makin turun jumlahnya. Persebaran hoaks lewat media sosial turut berkontribusi dalam penurunan kepercayaan masyarakat terhadap vaksin ini," kata Donny.
Data sumber informasi yang diakses masyarakat | Presentasi Donny Budi Utoyo
Karena itu, Donny mendorong agar semua pihak bekerjasama untuk mendorong literasi media ke masyarakat. Ia menilai akan sangat sulit jika pemerintah bekerja sendirian menyelesaikan permasalahan hoaks ini.
“Disinformasi dan hoaks akan lebih cepat cepat turun jika masyarakatnya bergerak. Tapi kalau masyarakatnya tidak gerak, maka yang terjadi informasi ini akan terus jalan,” tambahnya.
Menurut Donny, pemerintah telah melakukan beberapa langkah untuk mengantisipasi hoaks, khususnya terkait hoaks info vaksin, yaitu:
Editor: Yuswardi A. Suud
Berita terkait:
Share: