
Pendiri XecureIT Gildas Deograt. | Foto: Tangkapan layar Cyberthreat.id/Andi Nugroho
Pendiri XecureIT Gildas Deograt. | Foto: Tangkapan layar Cyberthreat.id/Andi Nugroho
Cyberthreat.id – Aplikasi pesan daring buatan Indonesia, Palapa, mengalami lonjakan pengguna menyusul imbas kebijakan privasi terbaru WhatsApp yang diumumkan awal Januari 2021.
"Impact-nya ke Palapa tiba-tiba pertumbuhannya naik,” ujar Pendiri XecureIT, Gildas Deograt, dalam sedaring bertajuk "CyberHub: Upaya Membangun Industri Keamanan Siber Nasional Sebagai Bagian dari SKSN", Senin (18 Januari 2021).
XecureIT adalah pengembang Palapa yang sebelumnya juga mengeluarkan aplikasi PesanKita Indonesia. Palapa sendiri baru dirilis pada September 2020.
Sayangnya, Gildas tidak menyebutkan angka pertumbuhan pengguna. Jika dilihati Google Play Store, unduhan Palapa telah mencapai 10.000 kali.
Seperti diketahui, dalam kebijakan privasi terbarunya, WhatsApp menyatakan akan membagikan data penggunanya kepada Facebook Inc dan grup perusahaan lain. WhatsApp juga menegaskan bahwa yang terpengaruh dalam kebijakan barunya tersebut hanya pada akun bisnis dan yang menggunakan layanan pembayaran di WhatsApp Pay. (Baca: WhatsApp Menyerah, Tunda Sementara Kebijakan Privasi Baru terkait Upaya Cari Duit)
Model bisnis
Dengan pertambahan pengguna, menurut Gildas, juga menjadi "simalakama" bagi perusahaan. Di satu sisi, pengguna ingin aplikasinya dipakai secara gratis, dari sisi bisnis justru semakin banyak pengguna, kian banyak pengeluarannya.
"Yang menanggung SMS-nya kan kami sebagai penyedia jasa. Penyedia produk, kalau kemudian ada sejuta user, dikali per SMS kita bayar ke provider Rp 500 hingga Rp 600 ya berarti Rp 600 juta. Kalau 10 juta user berarti Rp 6 miliar," katanya.
Terlepas dari model bisnis itu, Gildas mengatakan, imbas kebijakan privasi baru WhatsApp menunjukkan bahwa pengguna semakin sadar akan syarat dan ketentuan sebelum menggunakan aplikasi.
"Kesadaran orang, paling tidak, ada niat membaca privacy policy mulai timbul," ujar dia. Gildas berharap hal seperti menjadi budaya warga Indonesia sebelum memakai atau menginstal aplikasi.
Pekan ini, ia mengatakan, Palapa akan merilis sejumlah fitur baru, misalnya, fitur “Palapa Room” yang terintegrasi dengan “Palapa client”. Sayangnya, Gildas tidak menjelaskan lebih lanjut terkait ini.
Awalnya untuk militer
Gildas menjelaskan perusahaannya sebetulnya membuat aplikasi pesan daring tidak dipasarkan untuk umum, tapi khusus untuk bidang pertahanan saja. Produk XecureIT, menurut dia, kini telah dipakai oleh militer Indonesia
Karena produk awalnya tak bisa dikonsumsi publik, XecureIT memilih untuk mengeluarkan Palapa. Beda antara Palapa dengan aplikasi pesan daring yang dipakai militer, kata dia, hanya pada segi konsep.
Selama 11 tahun membangun XecureIT, Gildas merasakan bagaimana perihnya soal pendanaan, karena kebanyakan investor Indonesia pemikirannya berbeda dengan investor asing yang ingin investasi jangka panjang.
Namun, Gildas mengatakan, tidak menerima investor asing lantaran ingin benar-benar seluruhnya diisi oleh warga Indonesia.
Direktur Proteksi Ekonomi Digital Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Anton Setiyawan, juga merokemendasikan agar masyarakat untuk instal Palapa.
Anton menjelaskan, aplikasi Palapa lebih aman karena dikembangkan di Indonesia dan platform ini juga dalam pembinaan BSSN.
Keberpihakan kepada industri dalam negeri, kata dia, sangat diperlukan bukan hanya dilakukan oleh pemerintah, melainkan seluruh warga Indonesia.
Keberpihakan adalah salah satu cara bagaimana melindungi dan membela industri dalam negeri. "Mulailah kita menggunakan produk-produk yang dihasilkan oleh industri keamanan siber lokal," kata Anton. (Baca: Ingin Keluar dari WhatsApp? Direktur BSSN Sarankan Masyarakat Pakai Aplikasi Palapa)
Palapa memiliki fitur yang mirip dengan WhatsApp dan Signal Aplikasi ini bentuk baru dari aplikasi PeSankita Indonesia yang saat ini sudah tidak tersedia di Google Play Store.
Palapa diklaim memiliki keamanan tinggi dan penyimpanan data secara terenskripsi karena didasari dengan Standar Arsitektur Keamanan Tingkat Tinggi Informasi (SAKTTI) guna mendukung norma baru bekerja di mana pun dan transformasi digital bagi korporasi maupun institusi pemerintah, serta sebagai platform membangun masyarakat atau Society 5.0.
Di Kebijakan Privasi-nya, perusahaan mengklaim Palapa menggunakan keamanan canggih dan enkripsi end-to-end (E2E) layanan pesan dan panggilan internet.
Panggilan dan pesan yang dikirimkan pengguna tidak akan pernah bisa dibagikan atau dilihat oleh siapa pun, kecuali penerima yang diizinkan, tutur pengembang.
Tak hanya itu, Palapa juga tidak bisa mendekripsi atau mengakses konten pesan atau panggilan yang dikirimkan pengguna.
Palapa membuat antrean pesan terenkripsi E2E di server-nya untuk dikirim ke perangkat yang sementara offline (kondisi baterainya habis). Maka pesan pengguna akan disimpan di perangkatnya sendiri.
Selain itu, untuk informasi teknis tambahan disimpan di server, termasuk token otentikasi yang dibuat secara acak, kunci, token push, dan materi lain yang diperlukan untuk melakukan panggilan dan mengirim pesan.
Palapa membatasi informasi teknis tambahan ini seminimal mungkin yang diperlukan untuk mengoperasikan layanan.
Perlu diingat, Palapa dapat membagikan informasi pengguna ke pihak lain dengan catatan untuk penegakan hukum, jika terjadi potensi pelanggaran, dan untuk mendeteksi, mencegah atau menyelesaikan masalah penipuan, keamanan atau teknis.
Untuk menggunakannya, Palapa dapat diunduh secara langsung di Google Play Store dan App store.[] (Baca: Bosan Pakai WhatsApp? Ini 5 Aplikasi Pesan Instan Buatan Indonesia)
Redaktur: Andi Nugroho
Share: