
Palapala | Foto: Google Play Store
Palapala | Foto: Google Play Store
Cyberthreat.id – Direktur Proteksi Ekonomi Digital Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Anton Setiyawan mengajak masyarakat untuk menggunakan aplikasi pesan daring lokal, Palapa.
"Menggunakan aplikasi Palapa bagi teman-teman yang peduli terhadap privasi," ujar Anton dalam acara sedaring bertajuk "CyberHub: Upaya Membangun Industri Keamanan Siber Nasional Sebagai Bagian dari SKSN", Senin (18 Januari 2021).
Rekomendasi Anton tersebut menyusul hebohnya kebijakan privasi terbaru WhatsApp yang menyatakan akan membagikan data penggunanya kepada Facebook Inc dan grup perusahaan lain.
Menurut Anton, aplikasi Palapa dapat digunakan bagi organisasi-organisasi yang memang membutuhkan komunikasi atau sistem perpesanan yang lebih aman (secure).
Berita Terkait:
Palapa, kata Anton, harus didorong menjadi satu platform yang bisa digunakan khususnya di organisasi, sesuatu yang berhubungan dengan kedinasan atau berkaitan dengan bisnis.
Mengenal Palapa
Palapa diluncurkan pada September 2020 oleh XecureIT. Palapa memiliki fitur yang mirip dengan WhatsApp. Aplikasi ini bentuk baru dari aplikasi PeSankita Indonesia yang saat ini sudah tidak tersedia di Google Play Store.
Palapa diklaim memiliki keamanan tinggi dan penyimpanan data secara terenskripsi karena didasari dengan Standar Arsitektur Keamanan Tingkat Tinggi Informasi (SAKTTI) guna mendukung norma baru bekerja di mana pun dan transformasi digital bagi korporasi maupun institusi pemerintah, serta sebagai platform membangun masyarakat atau Society 5.0.
Di Kebijakan Privasi-nya, perusahaan mengklaim Palapa menggunakan keamanan canggih dan enkripsi end-to-end (E2E) layanan pesan dan panggilan internet.
Panggilan dan pesan yang dikirimkan pengguna tidak akan pernah bisa dibagikan atau dilihat oleh siapa pun, kecuali penerima yang diizinkan, tutur pengembang.
Tak hanya itu, Palapa juga tidak bisa mendekripsi atau mengakses konten pesan atau panggilan yang dikirimkan pengguna.
Palapa membuat antrean pesan terenkripsi E2E di server-nya untuk dikirim ke perangkat yang sementara offline (kondisi baterainya habis). Maka pesan pengguna akan disimpan di perangkatnya sendiri.
Selain itu, untuk informasi teknis tambahan disimpan di server, termasuk token otentikasi yang dibuat secara acak, kunci, token push, dan materi lain yang diperlukan untuk melakukan panggilan dan mengirim pesan.
Palapa membatasi informasi teknis tambahan ini seminimal mungkin yang diperlukan untuk mengoperasikan layanan.
Perlu diingat, Palapa dapat membagikan informasi pengguna ke pihak lain dengan catatan untuk penegakan hukum, jika terjadi potensi pelanggaran, dan untuk mendeteksi, mencegah atau menyelesaikan masalah penipuan, keamanan atau teknis.
Untuk menggunakannya, Palapa dapat diunduh secara langsung di Google Play Store dan App store. (Baca: Bosan Pakai WhatsApp? Ini 5 Aplikasi Pesan Instan Buatan Indonesia)
Mengapa lebih aman?
Anton menjelaskan, aplikasi Palapa lebih aman karena dikembangkan di Indonesia dan platform ini juga dalam pembinaan BSSN.
Keberpihakan kepada industri dalam negeri, kata dia, sangat diperlukan bukan hanya dilakukan oleh pemerintah, melainkan seluruh warga Indonesia.
Keberpihakan adalah salah satu cara bagaimana melindungi dan membela industri dalam negeri. "Mulailah kita menggunakan produk-produk yang dihasilkan oleh industri keamanan siber lokal," kata Anton.
Selain Palapa, Anton juga menjelaskan ada sejumlah industri yang bergerak di bidang keamanan siber juga perlu mulai digunakan seperti Xynexis Internasional yang dapat membantu menyusun tata kelola dan CBQA Global yang menyediakan sertifikasi keamanan informasi.
Menurutnya, keberpihakan ini dapat membuat produk yang dibuat oleh industri itu semakin berkembang.
"Selama kita gunakan, nanti berkembang menjadi bagus. Gimana produknya akan bagus kalau kita tidak menggunakan produk tersebut," kata Anton.[]
Redaktur: Andi Nugroho
Share: