IND | ENG
Sulitnya Akses Internet dan Beban Tugas Daring Menumpuk, Siswi SMA di Sulsel Nekat Bunuh Diri

Ilustrasi | Foto: freepik.com

Sulitnya Akses Internet dan Beban Tugas Daring Menumpuk, Siswi SMA di Sulsel Nekat Bunuh Diri
Andi Nugroho Diposting : Senin, 19 Oktober 2020 - 10:00 WIB

Cyberthreat.id – Seorang siswi SMA berinisial MI (16) di Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan diduga nekat bunuh diri. Mayatnya ditemukan di bawah tempat tidurnya pada Sabtu (17 Oktober 2020).

Dalam laporan Kompas.com, Minggu (18 Oktober), MI tewas mengakhiri hidupnya dengan meminum racun rumput.

Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Jufri Natsir mengatakan, sebelum ditemukan meninggal, korban sempat mengeluh kepada rekan-rekannya soal tugas sekolah yang menumpuk.

"Penyebab korban bunuh diri akibat depresi dengan banyaknya tugas-tugas daring dari sekolahnya di mana korban sering mengeluh kepada rekan-rekan sekolahnya atas sulitnya akses internet di kediamannya yang menyebabkan tugas-tugas daringnya menumpuk," kata Jufri.

Dugaan bunuh diri itu diperkuat dengan sebuah rekaman video berdurasi 32 detik di ponsel korban. Dalam video itu terlihat detik-detik korban saat menenggak racun tersebut.

"Korban ditemukan pertama kali oleh adiknya sebab saat kejadian seluruh anggota keluarganya tengah berkebun" kata Jufri.


Baca:


Jangkauan internet

Pada akhir Agustus lalu, Wakil Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI), Merza Fachys, mengatakan, saat ini baru 49,35 persen wilayah di Indonesia yang terjangkau jaringan 4G.

Ia mengatakan, wilayah yang belum teraliri jaringan 4G biasanya jauh dari aktivitas bisnis. Namun, jika dilihat dari segi demografis, jumlah pengguna 4G memang sudah menjangkau 91 persen penduduk Indonesia.

"Kalau dilihat secara geografis belum menjangkau semua wilayah Indonesia, terutama di Indonesia Bagian Timur,” kata Merza.

Untuk pembangunan dan peningkatan infrastruktur telekomunikasi di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), menurut Merza, butuh investasi yang cukup besar. Terlebih saat ini masih ada 12.500 desa yang belum terhubung internet dan jaringan 4G. Provinsi Papua dan sekitarnya menjadi wilayah yang paling banyak belum terkoneksi, sedikitnya 4.000 desa belum terkoneksi internet.

Ia mengatakan, untuk membangun menara pemancar sinyal di Papua, misalnya, butuh dana sebesar Rp 1 miliar. Namun, menurut dia, ATSI akan tetap berupaya membangun menara pemancar sinyal untuk menyediakan jaringan 4G di daerah 3T dan lainnya.

Bantuan kuota internet

Pandemi Covid-19 yang berjalan tujuh bulan terakhir memaksa para siswa belajar dari jarak jauh. Mereka harus beradaptasi dengan sekolah daring yang mengandalkan internet. Tugas-tugas sekolah dan kuliah diberikan melalui platform-platform daring.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sempat dikritik dengan penerapan sekolah jarak jauh lantaran tidak semua sekolah atau siswa memiliki akses internet.

Pemerintah pun mengeluarkan program bantuan kuota internet gratis. Bulan lalu, bantuan kuota internet mulai diberikan. Tahap pertama antara 22-24 September dan tahap kedua antara 28-30 september.

Untuk periode bulan ini, tahap pertama diberikan antara 22-24 Oktober dan 28-30 Oktober untuk tahap kedua.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, untuk periode pertama dan kedua, kuota internetnya akan berlaku 30 hari terhitung sejak diterima oleh nomor ponsel yang terdaftar.

Selanjutnya, penyaluran terakhir (bulan ketiga dan keempat), yakni tahap pertama pada 22-24 November dan tahap kedua 28-30 November. Khusus tahapan ini, masa berlaku kuota internet selama 75 hari terhitung sejak diterima oleh nomor pendidik dan peserta didik.

Besaran kuota yang diberikan

Besaran kuota yang didapatkan pendidik dan peserta didik sendiri sebagai berikut:

  • Peserta didik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mendapatkan kuota belajar 15 GB per bulan dan kuota umum 5 GB per bulan. Total 20 GB per bulan dengan durasi bantuan empat bulan terhitung sejak September 2020.
  • Peserta didik jenjang pendidikan dasar dan menengah menerima kuota belajar 30 GB per bulan dan kuota umum 5 GB per bulan. Total 35 GB per bulan durasi bantuan empat bulan terhitung sejak September 2020.
  • Pendidik pada PAUD dan jenjang pendidikan dasar dan menengah menerima kuota belajar 37 GB per bulan dan kuota umum 5 GB per bulan. Total 42 GB per bulan durasi bantuan empat bulan terhitung sejak September 2020.
  • Mahasiswa dan dosen menerima kuota belajar 45 GB per bulan dan kuota umum 5 GB per bulan. Total 50 GB per bulan durasi bantuan empat bulan terhitung sejak September 2020.[]
#sekolahdaring   #belajardaring   #belajarjarakjauh   #kuotainternet   #bantuaninternet   #internet   #apjii   #palaparing

Share:




BACA JUGA
Tencent Minta Pemerintah China Perketat Tata Kelola Ekonomi Internet
Peneliti Ungkap Kecanduan Smartphone Ganggu Jam Tidur, Begini Solusinya
Aturan Baru Internet India Bisa Hancurkan Enkripsi Ujung ke Ujung
Menteri Nadiem Umumkan Kemendikbud Lanjutkan Subsidi Internet Gratis, tapi Beda dengan Sebelumnya
Facebook Teken Kerja Sama dengan Tiga Media Independen Australia