IND | ENG
Apple Lacak Produk yang Dijarah Saat Kerusuhan BlackLivesMatter, Apa Kabar Privasi?

Ilustrasi

Apple Lacak Produk yang Dijarah Saat Kerusuhan BlackLivesMatter, Apa Kabar Privasi?
Faisal Hafis Diposting : Sabtu, 06 Juni 2020 - 14:54 WIB

Cyberthreat.id - Apple memastikan produk-produk yang dijarah oleh para oknum penjahat selama kerusuhan BlackLivesMatter di Amerika Serikat (AS) tidak dapat digunakan. Perusahaan mengatakan telah menonaktifkan perangkat tersebut secara jarak jauh.

Banyak toko dan gerai Apple di beberapa kota seperti Washington, Los Angeles, New York, Philadelphia, dan San Francisco dijarah. Itu terjadi di tengah aksi demonstrasi besar-besaran anti-rasis yang menyebar di berbagai kota AS atas kematian George Floyd.

Ketika produk Apple hasil jarahan tersebut dinyalakan, perangkat itu akan memberikan peringatan dan pesan bahwa produk itu tidak bisa digunakan sama sekali.

"Silahkan kembali ke Apple Walnut Street. Perangkat ini telah dinonaktifkan dan dilacak. Pihak berwenang setempat akan diberitahu," tulis peringatan itu seperti dilansir BBC News, Kamis (4 Juni 2020).

Akun Twitter dengan username @Kishkinda2 memposting foto yang menunjukkan perangkat iPhone hasil jarahan mengeluarkan peringatan tersebut.

Kejadian serupa juga dicuitkan akun @760vercetti. Ia bingung kenapa orang-orang tidak mengerti dengan sifat perangkat apapun yang selalu bisa dilacak.

"Saya tidak mengerti bagaimana Anda semua menjarah toko-toko Apple yang (sudah pasti) tidak (dapat) digunakan sejak 2013," tulisnya saat memposting foto yang menunjukkan perangkat Apple hasil jarahan yang tidak berfungsi.

Apple Insider memberitakan bahwa kejadian ini bisa dimanfaatkan oleh para oknum untuk menjual perangkat hasil jarahan dengan harga dibawah pasaran.

"Bagi Anda yang ingin membeli perangkat Apple, disarankan untuk memeriksa status aktivasi kunci iCloud sebelum membelinya dengan harga yang murah," tulis berita tersebut.

Sebuah artikel yang dimuat Washington Post pasca kematian George Floyd mempertanyakan aturan privasi di perangkat Apple. Kebanyakan pengguna tidak tahu apakah perangkat mereka dilacak kemudian berkomunikasi dengan pihak ketiga.

Meskipun layar perangkat mati, tetapi aplikasi mengirimkan banyak informasi tentang pengguna ke perusahaan ketiga yang tidak diketahui atau pengguna tidak pernah mendengar namanya.

"Dan Apple sebenarnya bisa melakukan banyak hal untuk menghentikan ini," tulis artikel tersebut.

Disebutkan sebuah perusahaan bernama Amplitude bisa mengetahui nomor telepon, email, dan lokasi pengguna. Kemudian sebuah aplikasi yang disebut Appboy bisa mendapatkan sidik jari digital dari ponsel pengguna. Kemudian tools pelacak bernama Demdex mengetahui cara untuk mengidentifikasi ponsel pengguna dan mengirim kembali daftar pelacak lainnya untuk dipasangkan ke perangkat.

"Ya, pelacak memang masalah yang juga terjadi di perangkat Android Google."

Mantan peneliti National Security Agency (NSA) Patrick Jackson mengatakan, yang paling berharga dari pelacakan sebenarnya adalah data. Jika data yang bersifat personal ini berada di tangan yang salah, bisa berakibat merugikan korban seperti kepentingan ekonomi dan kepentingan politik.

Terlepas dari kasus penjarahan produk Apple saat terjadinya kerusuhan di AS, masyarakat global seharusnya memahami bahwa di era digital segala sesuatu bersifat terbuka sehingga sulit untuk bersikap tertutup. Dan, perangkat yang belum digunakan pun bisa dilacak.

"Jika kita tidak tahu kemana pergi data kita, digunakan siapa, dan kita dilacak, bagaimana mungkin kita masih bicara privasi," ujar Jackson.[]

Redaktur: Arif Rahman

#Apple   #privasi   #kerusuhanas   #Georgefloyd   #BlackLivesMatter   #datapribadi   #google   #android   #pelacakan

Share:

BACA JUGA
Akun Twitter Pengumbar Data Pribadi Denny Siregar Menghilang
Setelah Datanya Disebar, Denny Siregar Sebut Anaknya Diancam Bunuh
Pasal ‘Hak untuk Dilupakan’ di RUU PDP Perlu Parameter yang Jelas
AnTuTu Ditendang dari Google Play Store
Yuk, Simak Tips BSSN dalam Melindungi Data Pribadi