IND | ENG
Google Rilis Data Perubahan Aktivitas Orang di 113 Negara

Google Rilis Data Perubahan Aktivitas Orang di 113 Negara

WABAH COVID-19
Google Rilis Data Perubahan Aktivitas Orang di 113 Negara
Yuswardi A. Suud Diposting : Sabtu, 04 April 2020 - 15:42 WIB

Cybethreat.id - Sejauh mana himbauan agar orang-orang tidak keluar rumah selama wabah Covid-19 dipatuhi? Tempat-tempat apa saja yang jumlah kunjungannya menurun atau bertambah? Menjawab pertanyaan itu, Google baru saja merilis data pemetaan dalam laporan yang disebut "Covid-19 Community Mobility Reports.

Dalam postingan blog yang diumumkan Jumat (3 April 2020), Google menyebut data itu dirilis sebagai bagian untuk membantu masyarat dan pejabat kesehatan memahami apa saja yang telah berubah selama anjuran work from home dan social distancing diberlakukan di negara-negara yang sedang berjuang melawan pandemi yang disebabkan oleh virus corona.

"Data ini dapat membantu peneliti melihat prediksi epidemi, merencanakan infrastruktur perkotaan dan transit, dan memahami mobilitas manusia dan respons terhadap konflik dan bencana alam," tulis Google.

Laporan itu terdiri dari file-file pdf yang dipisahkan berdasarkan data negara. Untuk tahap awal, ada 131 negara yang tersedia, dan akan terus diperbaharui. Anda dapat mengunduhnya di sini: Covid-19 Community Mobility Reports.

Misalnya, laporan tertanggal 29 Maret 2020 menyebut terjadi penurunan 47 persen dalam aktivitas ritel dan rekreasi dibanding kondisi sebelum pandemi Covid-19; penurunan 22 persen dalam kunjungan ke toko grosir dan farmasi; dan 19 persen penurunan kunjungan ke taman dan pantai.

Sementara di California, pada tanggal yang sama menunjukkan penurunan yang jauh lebih besar (turun 38 persen dibandinkan baseline regional; dan penurunan yang sedikit lebih besar dalam aktivitas ritel daan rekreasi (turun 50 persen) dan toko bahan makanan dan farmasi berkurang 24 persen.

Google mengatakan data itu diolah menggunakan "data teragregasi, anonim untuk memetakan tren pergerakan dari waktu ke waktu berdasarkan geografi, di berbagai kategori tempat seperti ritel dan rekreasi, bahan makanan dan apotek, taman, stasiun ransit, tempat kerja, dan perumahan."

Tren ditampilkan selama beberapa minggu, dengan informasi terbaru mewakili kondisi 2 atau 2 hari sebelumnya.

Google mengatakan, penghitungan dilakukan berdasarkan data pengguna Google yang mengaktifkan Riwayat Lokasi (Location History) di ponsel mereka (tentu saja jika koneksi internetnya tidak mati). Dengan begitu, bisa jadi tidak mewakili populasi masyarakat yang lebih luas.

Laporan mobilitas lokasi Google untuk Italia yang merupakan negara paling terpukul oleh virus corona di Eropa, memperlihatkan bagaimana perubahan terjadi setelah pemerintah setempat menerapkan kebijakan lockdown untuk mencegah orang-orang keluar rumah agar tidak terpapar virus.

Disebutkan, di Italia kunjungan ke ritel dan rekreasi turun 94 persen dibanding sebelumnya, kunjungan ke grosir dan farmasi turun 85 persen, dan penurunan 90 persen untuk kunjunganke taman dan pantai.

Laporan itu juga memperlihatkan penurunan 87 persen aktivitas di stasiun tansit, penurunan 63 persen aktivitas di tempat kerja, dan peningkatan hampir 24 persen aktivitas di lokasi perumahan.

Data yang kurang lebih sama juga terjadi di Spanyol, negara kedua terparah di Eropa. Semetara di Prancis, instruksi untuk tinggal di rumah tampak tidak berubah signifikan dengaan hanya peningkatan 18 persen aktivitas di lokasi perumaahan dan penurunan 56 persen aktivitas di tempat kerja. Ini bisa jadi karena Prancis belum terdampak terlalu parah, meskipun jumlah kasus dan kematian yang terkonfirmasi terus meningkat di seluruh wilayah.

Google menggarisbawahi bahwa akurasi lokasi dan pengelompokan tempat bervariasi dari satu wilayah ke wilayah.

"Jadi kami tidak akan merekomendasikan data ini untuk membandingkan perubahan antar negara, atau antar karakteristik wilayah yang berbeda (misal: daerah pedesaan versus perkotaan)," tulis Google.

"Kami akan meninggalkan kawasan di luar laporan jika kami tidak memiliki tingkat data yang signifikan secara statistik."

Perlindungan privasi
Google mengklaim laporan itu didukung oleh teknologi anonimitas kelas dunia, tanpa mengidentifikasi orang secara individu.

"Wawasan dibuat dengan kumpulan data anonim teragregasi dari pengguna yang telah mengaktifkan pengaturan Riwayat Lokasi, yang dinonaktifkan secara default. Pengguna yang mengaktifkan Riwayat Lokasi dapat memilih untuk menonaktifkan pengaturan kapan saja dari Akun Google mereka, dan selalu dapat menghapus data Riwayat Lokasi langsung dari Timeline mereka," kata Google.

"Kami berharap wawasan ini akan menambah informasi kesehatan masyarakat lainnya yang akan membantu orang dan masyarakat tetap sehat dan aman." []

#corona   #google   #socialdistancing

Share:

BACA JUGA
Apple Lacak Produk yang Dijarah Saat Kerusuhan BlackLivesMatter, Apa Kabar Privasi?
Hacker Menyamar Sebagai Pencari Kerja dari China untuk Curi Data Perbankan
BSSN Ingin Google Bekerja Sama Amankan Ruang Siber Indonesia
BPKN Ingatkan Penanganan Pengguna Kartu Kredit yang Terdampak Covid-19
Presiden Ingin Pelacakan Covid-19 Pakai Teknologi ala Korsel dan Selandia Baru, Seperti Apa?